Jumat, 23 Agustus 2013

Tugas Kelompok: Timeline Sejarah Pergerakan Mahasiswa ITB

1920: Transportasi Hindia Belanda dengan Belanda terputus sehingga dibentuk Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng) untuk menyediakan tenaga ahli sendiri. Studenten mendirikan Bandung Studenten Corpse (BSC) atau Corpus Studiosorum Bandungnese (CSB). Mahasiswa pribumi mendirikan Indische Studenten Vereniging (ISV) karena aspirasinya tidak tersalurkan

1940: TH Bandoeng berganti nama menjadi Institut of Troopical Science (ITS)

1944: Jepang mengganti nama ITS menjadi Bandung Kogyo Daigaku

1946: Setelah kemerdekaan Indonesia, Bandung Kogyo Daigaku diubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Teknik Bandoeng (STT Bandoeng). STT Bandoeng akhirnya dipindah ke Yogyakarta dan menjadi STT Yogyakarta bagian Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dengan dekan Ir. Rooseno. Banyak mahasiswa menjadi sukarelawan tentara pelajar untuk mempertahankan kemerdekaan

1947: Belanda menguasai Bandung, mendirikan Nood Universities yang menjadi Universiteit van Indonesie, dan menjadikan Kampus STT Bandoeng sebagai Faculteit van Technische Wetenschap (Fakultas Ilmu Teknik) dan Faculteit van Exacte Wetenschap (Fakultas Ilmu Pasti). Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) berdiri dan Himpunan Mahasiswa Bangunan dan Listrik berdiri tahun berikutnya

1950: Berdiri Dekan Mahasiswa di UGM, UI Jakarta, dan UI Bandung. Terdapat usaha partai politik mendirikan wadah pergerakan mahasiswa, seperti PNI dengan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia), PKI dengan CGMI (Consetrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), dan Partai Sosialis Indonesia dengan Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosisalis)

1955: Dewan Mahasiswa UI Jakarta dan UI Bandung bersatu. Muncul konsep Kuliah Kerja Nyata diprakarsai Emil Salim (UI Jakarta) dan Koesnandi Hardjasomantri (UGM) untuk menyadarkan pentingnya belajar pada rakyat kecil sehingga terjadi lonjakan peminat perguruan tinggi

1960: Dewan Mahasiswa ITB (DM ITB) berdiri dengan ketua umum Piet Corputty (Teknik Sipil) dan wakil ketua umum Udaya Hadibroto (Teknik Pertambangan).

1962: Udaya Hadibroto menjadi ketua umum DM ITB. DM ITB memobilisasi ratusan mahasiswa mengikuti Trikora untuk pembebasan Irian Barat

1963: Terjadi kerusuhan tanggal 10 Mei yang berbau konflik rasial dan melibatkan tokoh mahasiswa, sehingga ITB terkena GMNI

1966: terbentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di berbagai kota dan kampus mendeklarasikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). KAMI Bandung dan DM ITB mengirikan Satuan Tugas sejumlah 200 mahasiswa setelah terbunuhnya Arief Rahman Hakim, mahasiswa Kedokteran UI oleh Cakrabirawa tanggal 24 Februari 1966. Bulan Oktober 1966, terbentuklah Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) melalui Musyawarah Kerja sebagai penyempurnaan DM ITB, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) sebagai badan legislatif wakil HMJ, dan Badan Pertimbangan Mahasiswa (BPM) sebagai perwakilan organisasi kemahasiswaan ekstrakampus.

1968: DM ITB menggulirkan isu "Back to Campus" untuk mengakhiri politisasi kampus sejak zaman Orde Lama, yaitu pengembalian fungsi kampus sebagai wahan pembelajaran dan penerapan Tridharma Perguruan Tinggi serta penarikan wakil mahsaiswa di DPR-GR. DM ITB sempat melangsungkan event nasional seperti Ganesha Intervarsity Games dan event regional seperti Konferensi Mahasiswa Asia Tenggara (ASEAUS).

1970: DM ITB di bawah pimpinan Syarif Tando menginisiasi pendirian Student Centre, BNI Unit ITB, Toko Kesejahteraan Mahasiswa, PT Pos Unit ITB, asrama, dll. Kegiatan kemahasiswaan kembali mengarah ke politik nasional sejak insiden 6 Oktober 1970.

1973: DM ITB di bawah pimpinan Muslim Tampubolon mulai melakukan gerakan untuk mengkritik akar permasalahan bangsa bersama DM Unpad yang dipimpin Hatta Albanik, DM Unpar yang dipimpin Budiono Kusumohamidjojo, & DM UI yang dipimpin Hariman Siregar.

1978: DM ITB di bawah pimpinan Heri Akhmadi, Rizal Ramli, dan Indro Tjahjono menyusun Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978 dan diluncurkan tanggal 16 Januari 1978 di Lapangan Basket dihadiri 2000 mahasiwa yang menyatakan sikap "Tidak Mempercayai dan Tidak Mengkehendaki Soeharto Kembali Menjadi Presiden RI". Akibatnya, kampus ITB diserbu Kodam Siliwangi tanggal 20 Januari, tanggal 9 Februari oleh Brigade Lintas Udara 18 Kostrad. Kampus diduduki 6 bulan, hanya mahasiswa angkatan '78 yang boleh berkuliah.

1979: Pembentukan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) yang diketuai Pembantu Rektor Kemahasiswaan. Kepengurusan UKM, Senat Mahasiswa Fakultas, dan HMJ dibimbing dan bertanggung jawab pada pembimbing unit, Pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan, dan Tim Pembimbing Kemahasiswaan Jurusan.

1982: Terjadi pembubaran Dewan Mahasiswa oleh 22 Ketua Himpunan dan 44 Ketua Unit Kegiatan. Koordinasi kegiatan kemahasiswaan terpusat ITB dikoordinasikan oleh Forum Komunikasi Himpuanan Jurusan (FKHJ) dan Badan Koordinasi Satuan Kegiatan (BKSK).

1985: Demonstrasi pemotongan kepala bebek saat kedatangan PM Inggris Margaret Thatcher dan Presiden Perancis Francois Mitterand sebagai simbol agar bangsa Indonesia tidak membebek bansa Barat.

1987: Fadjroel Rachman, Syahganda, Ondos Koekritz, Hatasi Nababan dan Lendo Novo dari ITB serta Ferry Juliantono dari Unpad mendirikan Badan Koordinasi Mahasiswa Bandung (BKMS) dan Komite Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat (KSMR), keduanya mengadakan aksi demo atas kasus penggusuran tanah

1988: Tanggal 5 Agustu, Menteri Dalam Negeri Jenderal Rudini datang ke ITB namun disambut dengan demo pembakaran ban, pelemparan telur, dan usaha pengusiran

1991: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Fuad Hasan mewajibkan berdirinya Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT)

1993: Hasil referendum mahasiswa ITB menolak SMPT dan menyatakan perlunya Lembaga Sentral Mahasiswa oleh, dari, dan untuk mahasiswa.

1996: Tanggal 20 Januari 1996 FKHJ dan BKSK ITB mendeklarasikan berdirinya Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) dan kelengkapannya yaitu Kongres dan Kabinet KM ITB. Untuk legalitas organisasi, mahasiswa dan rektorat mengadakan Forum Balai Pertemuan Ilmiah diketuai Haru Suwandharu, namun tidak menghasilkan apapun. KM ITB bersama Komite Mahasiswa Unpar mendirikan Forum Komunikasi Mahasiswa Bandung, lalu bersama kampus-kampus Jakarta mendirikan Forum Komunikasi Mahasiswa se-Jabodetabek yang disingkat Forkot (Forum Kota)

1998: Konsepsi Organisasi Kemahasiswaan serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KM ITB disahkan. Diadakan pemilu raya KM ITB pertama kali dengan hasil Vijaya Vitriyasa sebagai Presiden KM ITB periode 1998-1999. Kabinet Vijaya berkontribusi dalam mendirikan Radio Kampus, mengadakan hearing calon presiden RI bulan April 1999, menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya pada peristiwa Semanggi II bulan Oktober 1999.

1999: Kabinet dipimpin R. Sigit Adi Prasetyo mengadakan Olimpiade Olahraga dan Seni Budaya I, menerbitkan buletin Soul of Campus, serta Public Lecture

2000: Pihak rektorat melarang mahasiswa baru mengikuti OSKM yang diketuai Alfari Firdaus. Panitia pelaksana pemilu raya yang diketuai Safari gagal, sehingga masa jabatan kabinet Sigit diperpanjang hingga Maret 2001

2001: Tanggal 10 Maret Abdillah Prasetya dan Krisna mengadakan aksi pendudukan Sekretariat KM ITB. FKHJ beserta beberapa unit seperti PSIK, Veritas, dan G-10 menyatakan pembekuan kongres dan kabinet dan membentuk Badan Pekerja Musyawarah Kerja (BP Muker) yang dipimpin Aan Yuhanis. Muker mengubah basis organisasi KM ITB dari jurusan menjadi himpunan, belum berhaknya mahasiswa ITB untuk memilih, dan pembentukan BKSK

2002: Pemira dimenangkan Alga Indria sebagai Presiden, Teguh Prasetya sebagai ketua kongres, dan Indra Madayana sebagai MWA WM. OSKM 2002 (diketuai Ahmad Mukhlis Firdaus) sebagai yang pertama dilegalkan rektorat. Aksi-aksi mahasiswa banyak ditujukan untuk membela rakyat kecil.

2004: Isu kabinet Tove di antaranya turunnya Mega-Hamzah, penolakan RUU Ketenagalistrikan 2003, diadakan ITB Fair 2004. Satuan Tugas KM ITB untuk pemilu didirikan dan diketuai Otep Kurnia.  Kabinet Anas (terpilih sebagai presiden merangkap anggota MWA WM periode 2004-2005) menggulir isu kecurangan pemilu 2004, isu pembongkaran Students Centre, dan pengusiran PKL ITB yang malah menyebabkan insiden pembakaran bendera KM dan jas almamater oleh beberapa anggota Unit Tiang Bendera saat OHU 2004.

2005: Presiden terpilih adalah Syaiful Anam yang mengalami isu legalitas kaderisasi, kasus skorsing akibat kasum PPAM HIMAFI 2004, kasus pembekuan IMG. OSKM 2005 menjadi yang pertama dibayangi isu legalitas (diketuai Fitrah Dinata).

2006: Terjadi pengulangan Pemira 2006, yang kemudian dimenangkan Dwi Arianto Nugroho. OSKM 2006 yang diketuai Zamzam Badruzaman bersifat ilegal dan hanya diikuti 136 mahasiswa. Kongres '06-'07 mengadakan sidang istimewa dengan keputusan perubahan status anggota muda kepada TPB sehingga tidak dapat memilih di pemilu dan dibentuk Forum Rumpun Unit. Kongres menolak LPJ kabinet '06-'07.

2007: Pemira dimenangkan Zulkaida Akbar dengan kasus yang berkembang di kabinet ini di antaranya kasus parkir, skorsing Presiden KMSR, Ketua Kaderisasi dan Ketua Angkatan SR 2006, serta draft SK Senat Akademik yang berisi bahwa organisasi kemahasiswaan ITB bertanggung jawab pada ITB. OSKM diketuai Agung Thaufika dan berganti nama menjadi PMB 2007, dilegalkan dengan banyak perubahan metode sehingga lebih banyak terjadi interaksi dan seminar daripada aksi demonstrasi. 

2008: Pemilu dengan sistem pasangan calon presiden dan calon anggota MWA WM menghasilkan Shana Fatina Sukarsono sebagai Presiden dan Wahyu Bagus Yuliantok sebagai anggota MWA. Programnya di antaranya sikap penolakan kenaikan harga BBM, deklarasi Rumah Belajar, audiensi dengan Menko Kesra dan Mensesneg, dan konsolidasi BEM seluruh Indonesia. Nama PMB diubah menjadi INKM (Inisiasi Keluarga Mahasiswa), diketuai Aulia Ibrahim Yeru.

2009: Ridwansyah Yusuf Achmad sebagai Presiden KM dan Benny Nafariza sebagai MWA WM. Terjadi aksi saat pelantikan kembali Presiden SBY yang menyatakan ketidakberpihakkan mahasiswa akan salah satu partai politik. INKM 2009 diganti menjadi PROKM, diketuai Ivan Pradhana Harka. Pemilihan rektor ITB dilaksanakan oleh MWA WM. 

2010: Terjadi aksi saat 100 hari pemerintahan SBY oleh kabinet Yusuf. Adanya deklarasi gerakan community development mahasiswa Indonesia di ITB. Hasil Pemira KM ITB 2010 adalah Presiden KM ITB Herry Darmawan dan MWA WM Ikhsan Abdusyakur, dengan inovasi ITB Summit. Adanya K3L dari rektor baru menjadi tantangan kabinet karena membatasi ruang gerak mahasiswa. Pada OSKM 2010 dengan ketua Angga Kusnan Qodafi, rektorat menekan mahasiswa agar mengganti nama OSKM dan terjadi wafatnya salah seorang panitia, Frans Norman Efraim. Di akhir kepengurusan diselenggarakan ITB Fair, beberapa kegiatannya di antaranya konferensi untuk community development dan deklarasi gerakan comdev. Pada kabinet ini juga MWA mengawal pemilihan rektor ITB 2010-2011.

2011: Isu kewirausahaan dari kabinet Herry menjadi dikenal di Indonesia. Terjadi aksi ke rektorat mengenai SNMPTN dan RUU PT yang berujung dengan rapat dengar pendapat DPR kepada mahasiswa ITB. Kongres KM ITB 2010-2011 memisahkan pemilu untuk KM ITB dan MWA WM, dengan hasil Presiden KM: Tizar Bijaksana dan Pejabat Sementara MWA WM: Syarif Rousan Fikri, dan MWA WM menghadapi tahun terakhirnya karena isu RUU PT. Nama OSKM berubah kembali menjadi PROKM 2011 dengan ketua Muhammad Ramdhani, membawa tema Semangat Berkemahasiswaan untuk Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar