"Tuntutlah ilmu sampai ke langit, lalu kembali kamu ke bumi untuk memakmurkan para penghuninya." - Gita Wirjawan
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber dayanya, luas daratan dan lautannya, beraneka ragam budayanya, namun tidak tahu cara memanfaatkannya. Dari empat narasumber yang berbicara di hadapan 3000-an mahasiswa hari ini, mereka semua setuju akan hal tersebut. Mereka memaparkan isu ini dari perspektif masing-masing.
Sebagai Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan menekankan isu pembangunan ekonomi Indonesia dan kaitannya dengan kemahasiswaan dengan berdasarkan kearifan lokal. Bahwa dalam 20 sampai 30 tahun ke depan, Indonesia akan dapat mengalami kemaujuan ekonomi yang pesat apabila masyarakatnya bangga berbangsa. Sering kita mendengar cerita Indonesia mengekspor bahan-bahan mentah ke luar negeri hanya untuk mengimpor barang hasil olahan dari yang kita ekspor dengan harga yang berkali-kali lipat mahalnya. Kita harus bisa untuk tidak hanya menyediakan natural resources, tetapi juga menambah nilai. Caranya? Dimulai dari pendidikan. Peka terhadap kemajuan teknologi, demokrasi, budaya, dan ekonomi.
Banyak tantangan yang harus dihadapi pemimpin masa depan untuk siap dalam persaingan global. Melawan tantangan zaman. Menjawab permintaan masyarakat yang beragam. Be nationalistic and internationalistic, both at the same time.
Berbeda dengan WANADRI yang menggarisbawahkan tema cinta tanah air. Indonesia memiliki wilayah yang sangat unik, dengan adanya cincin gunung merapi, lautan dengan serpihan pulau-pulau, kayanya sumber daya alam. Mereka membuktikan rasa nasionalisme mereka dengan menjelajahi berbagai wilayah tersebut, mendaki gunung-gunung, menancapkan simbol Indonesia di puncaknya. Mengembangkan karakter yang berani dan orisinil dalam prosesnya. "Sadar diri, sadar lingkungan, sadar tujuan," begitu mereka berpesan. Satu hal yang saya sangat ingat, mereka menyatakan bahwa orientasi masyarakat Indonesia saat ini lebih ke daratan, yang berarti budaya menyebar dari arah utara ke selatan, padahal zaman kejayaan Sriwijaya dulu justru kebalikannya. Lautan menjadi orientasi, budaya mengarah dari selatan ke utara, buktinya? Nusantara dahulu menguasai banyak wilayah di Asia Tenggara.
Untuk kemandirian dan kesejahteraan bangsa, Bu Tri Mulyani berpegang terhadap integritas dan kompetensi pemuda. Untuk membaca Indonesia dengan baik, seseorang harus memadukan pengetahuan dan perasaannya. Masyarakat Indonesia saat ini masih hanya menjadi kuli-kuli belaka. Sumber daya lokal termiskinkan oleh anggapan ekonomi yang hanya mementingkan peningkatan pertumbuhan, bukan kepentingan rakyat dengan kepedulian terhadap kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan. Solusinya? Kewirausahaan sosial, dengan landasan bahwa setiap orang adalah unik. Setiap orang dari mereka dapat bekontribusi untuk kemajuan Indonesia dengan cara mereka masing-masing, melakukan kegiatan yang disukai dengan sebaik-baiknya, dengan adanya rasa.
Mungkin yang paling mengena bagi saya adalah perspektif dari Kak Saska, founder lembaga Riset Indie. Kegiatan lembaga penelitian do it yourself ini adalah satu hal paling nyata yang dapat dilakukan pemuda untuk menggagaskan perubahan. Bahwa segala sesuatu yang besar bermulai dari hal kecil. Bahwa dengan kolaborasi dapat dihasilkan sesuatu yang bermanfaat. Bahwa proses adalah segalanya.
(Oleh: Fikrianti S. - 16213134)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar